>

Studi: Penyintas Covid-19 Miliki Imunitas Lebih Kuat

  Jumat, 08 Januari 2021   Republika.co.id
Ilustrasi simulasi vaksinasi Covid-19 (Ayobandung.com)

JAKARTA, AYOPURWAKARTA.COM -- Hasil sebuah studi baru menafsirkan bahwa kemungkinan terbentuknya imunitas lebih kuat dari para penyintas covid-19 terhadap virus corona bisa bertahan selama beberapa tahun ke depan. Studi baru tersebut juga mengungkap bahwa para penyintas Covid-19 memiliki imunitas yang kuat dari virus SARS-CoV-2 hingga 8 bulan ke depan setelah terinfeksi. 
 
Shane Crotty, seorang peneliti di La Jolla Institute for Immunology di California, dan salah satu penulis studi mengatakan bahwa studi ini setidaknya bisa mengurangi ketakutan tentang efektivitas vaksin Covid-19.
 
“Awalnya ada banyak kekhawatiran bahwa virus ini mungkin tidak menimbulkan banyak memori. Sebaliknya, memori kekebalan terlihat cukup baik,” kata Crotty seperti dikutip dari laman Technology Review pada Kamis (7/1/2021).
 
Studi yang diterbitkan 6 Januari di jurnal Science ini cukup kontras dengan studi sebelumnya yang menyatakan bahwa imunitas Covid-19 berumur pendek, menempatkan jutaan penyintas pada risiko infeksi ulang. Namun studi baru menunjukkan bahwa infeksi ulang seharusnya hanya menjadi masalah bagi sebagian kecil orang yang telah mengembangkan imunitas, baik melalui infeksi awal atau dengan vaksinasi.
 
“Sebagian kecil penyintas memang tidak memiliki kekebalan yang tahan lama. Tetapi vaksinasi harus mengimbangi masalah itu dengan memastikan kekebalan kawanan pada populasi yang lebih besar,” kata Crotty.
 
Studi ini mempelajari sampel darah dari 185 pria dan wanita yang telah pulih dari covid-19, sebagian besar dari infeksi ringan, meskipun 7 persen diantaranya dirawat di rumah sakit. Setiap peserta memberikan setidaknya satu sampel darah antara enam hari dan delapan bulan setelah gejala awal mereka, dan 43 sampel diambil setelah enam bulan.
 
Tim yang menjalankan penyelidikan mengukur tingkat beberapa agen imunologi yang bekerja bersama untuk mencegah infeksi ulang: antibodi (yang menandai patogen untuk dihancurkan oleh sistem kekebalan atau menetralkan aktivitasnya), sel B (yang membuat antibodi), dan sel T ( yang membunuh sel yang terinfeksi).
 
Para peneliti menemukan bahwa antibodi dalam tubuh menurun setelah delapan bulan, meskipun kadarnya sangat bervariasi antar individu. Tetapi jumlah sel-T hanya berkurang sedikit, dan jumlah sel-B tetap stabil dan terkadang tumbuh meski sulit diukur. Itu berarti bahwa meskipun ada penurunan antibodi, komponen yang dapat memulai kembali produksi antibodi dan mengkoordinasikan serangan terhadap virus corona bertahan pada tingkat yang cukup tinggi.
 
Crotty menambahkan bahwa mekanisme yang sama yang mengarah pada memori kekebalan setelah infeksi juga membentuk pondasi bagi kekebalan setelah vaksinasi. Namun demikian, studi ini masih memiliki kekurangan. Akan lebih baik jika mengambil beberapa sampel darah dari setiap peserta. 
 
“Kekebalan berbeda setiap orangnya, dan individu dengan memori kekebalan yang lemah masih mungkin rentan terhadap infeksi ulang,” Crotty memperingatkan.
 
Sebelumnya, sebuah penelitian yang diterbitkan pada bulan Agustus menunjukkan bahwa sel T khusus untuk SARS dapat tetap berada di dalam darah setidaknya selama 17 tahun, memperkuat harapan bahwa kekebalan Covid-19 dapat bertahan selama beberapa dekade.
   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar