Mengenal Psikisomatis, Sakit yang Muncul Akibat Tekanan Psikologis

  Senin, 06 April 2020   Nur Khansa Ranawati
ilustrasi. (unsplash)

PURWAKARTA KOTA, AYOPURWAKARTA.COM -- Pernahkah Anda merasa sesak, berat saat bernafas, merasa badan demam ataupun batuk pada saat pandemi Covid-19 ini berlangsung? Hal tersebut belum tentu menunjukan bahwa Anda mengalami gejala Covid-19. Bisa jadi, kondisi tersebut dipengaruhi oleh keadaan psikis Anda yang tertekan.

Psikolog klinis Universitas Islam Bandung (Unisba) Stephanie Reihana menyebutkan, hal tersebut dinamai psikosomatis. Keadaan tersebut adalah gejala menyerupai penyakit klinis yang diakibatkan oleh sugesti atau tekanan psikologis yang dirasakan oleh seseorang.

"Sangat memungkinkan hal ini terjadi di saat pandemi seperti sekarang," ungkapnya ketika dihubungi Ayobandung.com, Senin (6/4/2020).

Psikosomatis terdiri dari dua kata, pikiran (psyche) dan tubuh (soma). Stephanie menyebutkan, salah satu ciri psikosomatis adalah gejala sakit yang dirasakan hanya terasa saat kondisi psikologis orang yang bersangkutan tengah terganggu.

"Munculnya ketika seseorang tengah cemas, takut, bingung, dan sebagainya. Tapi gejala sakit akan hilang ketika kondisi psikologis membaik," ungkapnya.

Dia menyebutkan, manifestasi gangguan kesehatan yang diakibatkan oleh psikosomatis bisa beragam. Mulai dari mual hingga gatal-gatal.

"Psikosomatis sangat bervariasi, tergantung orang dan kecenderungan pribadinya. Bisa batuk, sakit kepala, sakit perut, mual, hingga gatal-gatal," ungkapnya.

Bahkan, di tengah pandemi Covid-19, dia mengatakan, seseorang juga mulai dapat 'terserang' psikosomatis dengan gejala menyerupai gejala Covid-19. Hal tersebut disebabkan oleh rasa cemas mengenai segala sesuatu yang terjadi di lingkungan mereka saat ini, yang nampak serba tidak pasti dan sulit dikontrol.

"Sangat memungkinkan seseorang merasa mengalami gejala seperti Covid-19. Di China, saat lockdown, keluhan psikosomatis meningkat," ungkapnya.

"Penelitian Gao,dkk (2020) menyatakan bahwa hanya dengan membuka info soal Covid-19 melalui media sosial, gangguan kecemasan seseorang bisa meningkat. Cemas adalah sumber utama psikosomatis," tambahnya.

Lantas, bagaimana cara membedakannya dengan penyakit klinis? Stephanie mengatakan, rasa sakit yang disebabkan oleh psikosomatis relatif tidak konsisten alias timbul-tenggelam, sesuai dengan kondisi psikologis orang yang bersangkutan di waktu tertentu.

"Ciri psikosomatis itu hanya terasa dalam kondisi psikologis tertentu. Misalnya saat cemas, takut, bingung, dan sebagainya. Gejala penyakitnya biasanya tidak konsisten, mengikuti kondisi psikologis," paparnya.

"Semakin stress, maka gejala sakitnya makin terasa," lanjutnya.

Namun, gejala sakit tersebut mereda atau hilang ketika kondisi psikologis membaik. Misalnya ketika sedang berbahagia ketika menelepon orang tersayang, ketika mendapat hadiah, dan sebagainya.

Hal tersebut berbeda dengan penyakit klinis, dimana rasa sakit terus menetap karena memang terjadi suatu gangguan pada kesehatan orang yang bersangkutan. Rasa sakitnya dapat dibuktikan dengan pemeriksaan klinis seperti misalnya pemeriksaan laboratorium, check-up dan sebagainya.

"Kadang bisa juga terjadi pusing, misalnya, dan sudah minum obat tapi tidak hilang-hilang. Menurut dokter tidak ada penyakit apa-apa. Maka sebenarnya bukan sakit, tapi psikosomatis," jelasnya.

Dia menyebutkan, hal yang dapat dilakukan seseorang untuk meredam gejala yang ditimbulkan oleh psikosomatis tersebut adalah dengan menenangkan diri. Selain itu, melakukan hal-hal yang menyenangkan juga disebut dapat membantu.

"Sadari bahwa yang menyebabkan sakit adalah pikiran. Tenangkan diri, tarik napas, fokuskan pikiran pada hal-hal positif. Lakukanlah meditasi atau beribadah," ungkapnya.

"Lakukan juga hal menyenangkan yang bisa mengalihkan pikiran. Misalnya melakukan hobi, main dengan hewan peliharaan atau sekedar nonton film yang menghibur," tambahnya.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar