Menengok Pengolahan Kolang Kaling di Desa Pasirmunjul

  Senin, 13 Mei 2019   Dede Nurhasanudin
Aep Saepudin bersama istri tengah mengolah buah aren dijadikan kolang kaling di kebun tak jauh dari rumahnya.

SUKATANI, AYOPURWAKARTA.COM -- Kolang kaling merupakan salah satu sajian menu berbuka puasa paling diburu sebagian besar masyarakat luas dibulan Ramadan. 

Kolang kaling sering menjadi bahan campuran kolak, es campur, manisan dan makanan tradisonal lainnya. Maka tak heran jika selama Ramadan permintaan pasar buah aren ini tinggi.

Kolang kaling sudah sangat familiar bagi masyarakat Indonesia, namun tidak sedikit pula yang belum mengetahui cara pengolahan buah aren tersebut.

Ayopurwakarta.com menengkok pengolahan kolang kaling di Desa Pasir Munjul Kecamatan Sukatani, Kabupaten Purwakarta. Sebagian besar para petani kolang kaling disana mengolahnya dengan alat seadanya atau menggunakan kayu dan bambu yang telah dimodifikasi.

"Penyajiannya cukup mudah, hanya butuh ketekunan yang tingi karena saya mengolah kolang kaling  masih manual," kata Aep Saepudin (55), salah satu petani kolang kaling di desa tersebut, Senin (13/5/2019).

Setelah berhasil dipetik dari pohonnya, buah aren lalu dimasukan ke dalam drum atau alat lainnya untuk direbus selama 2 sampai 3 jam, setelah itu didinginkan terlebih dahulu sebelum nantinya masuk proses berikutnya.

Cara mengeluarkan kolang kaling di dalam kulitnya pun cukup unik, buah kolang kaling yang telah direbus tadi kemudian dihimpit oleh kayu dan bambu yang telah dimodifikasi sedemikian rupa. Satu buah aren umumnya menghasilkan 3 sampai 4 biji kolang kaling.

"Biasanya saya menghasilkan kolang kaling tidak kurang dari 30 Kg per hari," ujar Aep.

Setelah terkumpul kemudian kolang kaling direndam di dalam air selama satu hingga dua hari untuk menghasilkan kolang kaling lebih sempurna.

"Kolang kaling saya jual Rp10.000 per Kg," ujar Aep.

Aep mengatakan bahwa permintaan pasar kolang kaling selama Ramadan cukup tinggi jika dibandingkan hari biasanya. Untuk menghabiskan 90 Kg kolang kaling hanya membutuhkan waktu tiga hari.

"Kalau hari biasa lebih dari tiga hari, karena permintaan pasar tidak seperti bulan puasa," ujar Aep.

Sekedar diketahui, pohon aren hanya berbuah satu kali saja, jika buah telah dipetik maka tidak akan menghasilkan kolang kaling dihari berikutnya, namun para petani biasanya memanfaatkannya untuk bahan gula dan tepung (aci kawung) dengan cara menyadap pohon aren.
 

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar