Puluhan SMP di Purwakarta Siap Menggelar UNBK Pekan Depan

  Sabtu, 20 April 2019   Dede Nurhasanudin
UN KOMPUTER SMP: Siswa mengerjakan soal Bahasa Indonesia, saat mengikuti Ujian Nasional Berbasis Komputer di SMP Pribadi Billingual Boarding School, Jalan PHH Mustopha, Kota Bandung, Senin (9/5/2018). UNBK di Kota Bandung diikuti sebanyak 144 siswa dari lima sekolah swasta. (Ramdany/Ayo Media Network)

PURWAKARTA KOTA, AYOPURWAKARTA.COM--Puluhan SMP di Kabupaten Purwakarta siap menggelar ujian nasional berbasis komputer (UNBK) pekan depan.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Purwakarta Purwanto melalui Kasi Kurikulum dan Penilaian Dede Supendi mengatakanbahwa ujian akan berlangsung selama tiga hari, mulai 22-25 April 2019. Persiapan ujian, menurutnya, sudah mencapai 99%, tinggal pelaksanaanya.

"Sekolah SMP yang menggelar UNBK sudah siap, tinggal pelaksanaannya hari senin minggu depan," ujar Dede, Sabtu (20/4/2019).

Ia mengatakan, mata pelajaran yang diujiankan yaitu bahasa Indonesia, matematika, bahasa Inggris, dan IPA. UNBK akan dibagi tiga sesi setiap harinya.

"Sesi pertama pukul 07.30-09.30 WIB, sesi kedua pukul 10.30-12.30 WIB, dan sesi ketiga pukul 14.00-16.00 WIB," kata Dede.

Dede mengaku, sekolah SMP di Purwakarta belum semua melaksanakan UNBK. Dia merinci dari total 110 SMP negeri dan swasa yang ada di Purwakarta, hanya 89 sekolah yang menggelar UNBK, yaitu 67 sekolah SMP negeri dan 22 SMP swasta. Sementara itu, 21 SMP lainnya masih menggelar ujian nasional berbasis kertas dan pensil (UNBKP).

Dia menjelaskanbahwa sekolah yang melaksanakan UNBK dibagi empat model, yaitu model mandiri, model menumpang, model gabung sementara, serta model mandiri dan menumpang.

Model mandiri artinya fasilitas penunjang keberlangsungan UNBK di sekolah yang bersangkutan telah memadai. Namun, ada juga sekolah model mandiri tetapi para peserta UNBK-nya terpaksa menumpang ke sekolah terdekat karena fasilitas penunjang UNBK di sekolah itu tidak sesuai dengan jumlah siswa yang ada.

"Sekolah tersebut berarti masuk dalam kategori mandiri dan menumpang," kata Dede.

Sementara itu, sekolah yang menggelar UNBK dengan model gabung berarti jumlah peserta UNBK di sekolah yang bersangkutan kurang dari 20 orang. Dengan demikian, sekolah itu tidak memenuhi standar operasional prosedur.

"Kalau model menumpang sudah jelas fasilitas komputer penunjang UNBK minim," ucap dia.

Selama keberlangsungan UNBK bukan tidak mungkin terjadi di luar dugaan, seperti gangguan server atau lainnya. Untuk mengantisipasi hal itu, lanjut Dede, pihaknya telah menyiapkan server cadangan dan tim khusus untuk menangani gangguan yang muncul.

"Soal pasokan listrik kita sudah kerja sama dengan PLN untuk tidak melakukan pemadaman, termasuk jaringan internet juga sudah kita koordinasikan agar jaringan tetap lancar," ujar dia.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar