Kazakhstan Sudah Bersiap Laksanakan Hukuman Kebiri, Indonesia Kapan?

  Selasa, 25 September 2018   Arditya Pramono
Ilustrasi.

PURWAKARTA, AYOPURWAKARTA.COM--Kazakhstan memberlakukan aturan kebiri kepada pedofil. Hukuman kebiri adalah hal pertama di negara tersebut. 

Aturan hukum tersebut akhirnya dilegalkan pemerintah setelah kurang lebih sebulan mendapatkan pengkajian. 

Terpidana pertama kasus pedofil yang berasal dari wilayah Turkestan akan menjadi orang pertama yang akan mendapatkan hukuman kebiri tersebut. 

Presiden Nursultan Nazarbayev sendiri, telah menyediakan anggaran sebesar Rp 400 juta untuk menyuntik 2.000 terpidana kasus paedofilia di tahun 2018.

Dalam pelaksanaannya, anggota DPR Kazakhstan, Byrganym Aitimova menjelaskan, terpidana akan mendapatkan suntikan sebanyak satu kali. 

"Langkah pengebirian dilakukan dengan satu kali suntikan untuk mencegah terpidana melakukan kekerasan seksual," jelasnya. 

Selain disuntik kebiri, terpidana juga harus menjalani hukuman penjara selama kurang lebih 20 tahun.

Di Indonesia, sebenarnya hukuman suntik kebiri kapada pelaku pelecehan seksual dan kekerasan pada anak (Pedofil) sudah finalisasi dan dibahas di tingkat kementerian terkait pada Desember 2016 lalu. 

Landasan hukuman suntik kebiri ada pada UU nomor 17 tahun 2016 yang dikeluarkan pada akhir Desember 2016 lalu. 

Menurut, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Indonesia, Yohana Yembise, pelaksanaan hukuman tinggal menunggu keputusan presiden. 

"UU nomor 17 tahun 2016 sudah dikeluarkan di akhir Desember 2016, dan mekanisme untuk suntikan kimiawi kebiri dan lain-lainnya ini sudah dibuat. UU ini pun sudah final, tinggal dikirim ke pak Presiden untuk ditandatangani," tegas Yohana beberapa waktu lalu. 

Yohana menyebutkan pemerintah memandang sangat serius kejahatan dan kekerasan terhadap anak, terutama kekerasan seksual. Salah satunya kasus pedofilia dari  beberapa waktu lalu yang marak terjadi di belahan bumi Indonesia.

"Saya setuju dengan hukum kebiri, tapi yang mau saya jelaskan bahwa hukuman kebiri ini tidak diberikan secara langsung. Tetapi pelakunya terlebih dahulu akan menjalani pidana pokok. Misalnya dihukum pidana 15 atau 20 tahun setelah itu baru disuntik kebiri," katanya. 

Suntikan kebiri tersebut, menurut Yohanana mengandung hormon perempuan yang akan membuat terpidana kasus pedofilia secara biologis tidak akan lagi terdorong melakukan kekerasan seksual.

"Ya untuk melakukan putusan hukuman kebiri tentu kami akan bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan," katanya.

Hal ini pun lanjut menteri dan guru besar perempuan pertama dari Papua itu merupakan salah satu salah satu upaya dari program rehabilitasi sosial bagi para pelaku kekerasan seksual terhadap anak.

"Undang-Undang ini sudah ada dan kami sudah siap untuk nanti melaksanakan aturan ini," tegas Yohana. 

Namun, terkait  pelaksanaan dan teknis suntikan kimiawi yang diberikan kepada para terpidana pedofilia, menurut istri mantan Gubernur Jawa Barat dan penggiat Pemberdayaan Perempuan dan Anak, Netty Herawati, hal itu harus lebih jelas diuraikan pada UU no 17 Tahun 2006 dan PP Nomer 43 Tahun 2017.

"Tentu ini harus dilakukan dan diperhatikan secara bersama. Tapi untuk saat ini kita lihat saja bagaimana kementerian bekerja sama dengan kementerian Kesehatan dan kepolisian untuk mengimplementasikan PP nomor 43 ini," ungkapnya.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar